My Story part 31 : Mencoba merendahkan expetasi agar tidak terlalu kecewa.
Selama ini aku terbiasa berekspektasi tinggi ya nggak sering sih. Pernah ngerasain expektasi nggak sesuai sama kenyataan yang ada. Ya itu karena
ekspetasiku terlalu tinggi makanya kecewa. Seharusnya yang bener itu kita harus
mempunya exspetasi yang rendah/buruk biar kita siap dengan resiko terburuk yang
akan terjadi. Contohnya si A penulis dia mau ngirim naskahnya ke penerbit lalu
si A ini berexpetasi kalo naskahnya gak bakal diterima sama penerbit. Seumpama
kenyataannya kayak gitu si A nggak bakal kecewa banget karena dari awal expetasinya
itu buruk dia tinggal cari solusi biar kedepannya naskahnya bisa diterima sama
penerbit. Begitu pula sebaliknya , kalo kalian nggak paham dengan penjelasanku
yang rumit aku menyarankan untuk kalian tonton videonya satu persen yang
judulnya Filosofi Stoicism [ Ekspektasi dan Kebahagiaan ] pembahasannya lengkap
dan bikin aku langsung paham.
aku berusaha menerapkan
Filosofi Stoicism dalam kehidupanku. Kadang capek sama realita yang ada
daripada diratapi mending berdamai yaps berdamai sama keadaan yang ada dan
nasib yang udah ditulis sama Allah buat kita. Berekspetasi serendah mungkin
lalu dianalisis “apa sih yang salah?”- “ “apa pula dampaknya?” - “gimana cara mengatasinya biar hal itu nggak
terjadi lagi?”aku selalu percaya bahwa Cuma Allah yang nggak pernah
mengecewakan kita. Yang ada kita yang selalu mengecewakan Allah :(dan ada satu
hal lagi yang harus kita tanamkan “Allah itu sutradara terbaik dalam kehidupan
manusia,jadi jangan terlalu khawatir. Allah yang ngatur semuanya pasrah
aja,yakin kalo hal ini mungkin yang terbaik untuk kita.”
Putri Wulandari
11 Februari 2020
0 komentar:
Posting Komentar